BOGOR-Peringatan satu dasawarsa Bogor EduCARE (10 tahun BEC) tampaknya akan segera terlaksana. Jumat (22/4) kemarin para alumni dari angkatan 11, 12 dan 13 beserta dosen BEC (Fajar Suyamto dan Widi) dan Ketua Pelaksana Harian Yayasan Peduli Pendidikan Mandiri Bogor EduCARE Nur Hanifah menghadiri rapat pembentukan panitia satu dasarwarsa BEC. Antusias untuk mensukseskan 10 tahun berdirinya BEC ini terlihat dari banyaknya alumni yang hadir kemarin. Rapat yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dibuka dengan presenstasi konsep acara yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Juli 2011. Suatu terobosan baru dari para alumni, acara satu dasawarsa nanti akan digelar dua hari berturut-turut. Yakni hari Sabtu dan Minggu. Acara itu sendiri akan digelar di kampus BEC.
Syarif Al Mukarom, alumni dari angkatan 12 terpilih menjadi ketua panitia satu dasawarsa BEC. Turut mendukung juga alumni dari angkatan 13 dan 14 untuk mensukseskan acara nanti. Tidak ketinggalan, alumni dari angkatan 11 yang telah berpengalaman melaksanakan acara reuni 2009 kemarin ikut terjun untuk menjadi panitia.
Acara 10 tahun berdirinya BEC sebenarnya jatuh pada 9 Agustus, namun karena berbenturan dengan bulan Ramadan, pelaksanaannya dimajukan pada bulan Juli. "Ulang tahun BEC sebenarnya tanggal 9 Agustus, tapi karena bentrok dengan bulan puasa jadi bulan Juli pelaksanaannya. Soalnya ga asyik klo bentrok sama bulan puasa, disitukan ada acara bakti sosial seperti donor darah, pengobatan gratis, terus ada bazaar makanan juga, jadi kurang pas, mendingan dimajukan ajah acaranya pada bulan Juli sebelum puasa. Tapi nanti Insya Allah tanggal 9 Agustus nanti akan ada acara syukurannya, sekalian buka bersama dengan para alumni dan mahasiswa BEC", ungkap Nur Hanifah disela-sela rapat kemarin. (snp)
Minggu, 24 April 2011
Rabu, 20 April 2011
Kartini Dimata Alumni
Setiap tahunnya tepatnya tanggal 21 April, bangsa kita memperingati hari lahirnya Raden Adjeng Kartini. Pada masa nya, wanita yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879 ini belum boleh memperoleh kebebasan dalam segala hal. Kartini sendiri hanya menempuh pendidikan setara dengan sekolah Dasar (dulu bernama Europese Lagere School atau ELS). Di era Kartini, para wanita tidak boleh memiliki pendidikan yang lebih tinggi seperti pria, bahkan untuk mencari jodoh atau suami sendiri pun tidak diperbolehkan. Akhirnya tumbuhlah keinginan dan tekad dihatinya untuk mengubah kebiasaan tersebut. Kartini berjuang untuk mendapatkan persamaan hak di segala bidang seperti kaum pria pada umumnya.
Ditengah modernisasi saat ini, sosok Kartini masih tetap dikagumi sebagai pencetus emansipasi wanita. Dikenang dan dihormati karena jasa-jasanya saat memperjuangkan hak wanita Indonesia.
Hari ini (21/4) tepat dilahirkannya pejuang emansipasi wanita itu, redaksi FOKAL BEC menghimpun beberapa pendapat dari alumni BEC mengenai makna dari memperingati hari Kartini. Seperti apa pendapat mereka? berikut pernyataannya di sela-sela kesibukan mereka:
Maria Ulfah (Angkatan 11)
Bagi aku sosok Kartini itu sama seperti ibu aku, "My Kartini is my mom". Banyak yang salah mengartikan emansipasi wanita. Dalam beberapa bidang emang kita punya kesamaan gender, tetapi ada hal-hal tertentu yang kita tidak bisa sama layaknya kaum pria. Kenyataan yang aku temuin, seorang wanita yg hebat d karir bahkan melebihi karir suaminya di tambah ia seorang yang cantik dan menarik, tapi karena ketakutan akan kehilangan karir dan kecantikannya ia tidak mau hamil. Emansipasi seh boleh ajah asal jangan kebablasan.
Aulia Fithri Fauziah (Angkatan 12)
Saya bangga pada ibu Kartini, karena tanpa jasa beliau, saya rasa sekarang ini mungkin saya hanya sibuk di dapur. Setidaknya ada kemajuan untuk wanita. Dulu saya enggak kepikiran bisa kerja di kantor, bayangan saya mungkin saya hanya di rumah
bantu-bantu orang tua. Tapi ternyata saya bisa merasakan pekerjaan yg biasanya lebih banyak di lakukan laki-laki yaitu "pergi ke kantor". So...bangga dong wanita juga bisa, pokoknya buat para wanita mah tetep percaya diri aja deh, belum tau kita bisa klo belom mencoba.
Rahmi Ramadhona (Angkatan 6)
Lebih dari sebuah makna "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kartini membuat saya bangga bahwa saya wanita dan saya bisa. Wanita jaman sekarang itu hebat. Semua bisa dikerjakan, jaman dulu kan enggak ada cewe jadi pilot tapi banyak juga cewe jaman
sekarang yang gak bisa masak. Jadi, tolak ukur wanita hebat versi 2011 itu menurut gw enggak mesti dari hebatnya dia bisa menjadi apapun (dalam hal pekerjaanya). Ibu yang cuma diem dirumah, dan bisa bikin anaknya senyum senang karena dimasakin makanan enak tiap hari, itu sudah lebih dari hebat. Karena senyum anaknya itu gak bisa dibeli pake uang. Enggak mesti jadi wanita karier kerja kantoran untuk jadi sukses, karena sukses itu relatif. Cukup jadi diri sendiri, dan tekuni apa yang kita kerjakan. Insya Allah buahnya manis.
Eneng Rani (Angkatan 3)
Wanita jg bisa berkreasi & bisa juga menjalnkan kewajibannya sebagai kodratnya.
Santy Hermawan (Angkatan 6)
Kartini adalah seorang wanita yang 'amazing'. Perjuangan untuk kaum perempuan sangatlah besar. Karena kekuatan jati dirinya, budi pekerti yang luhur & semangat yang besar, Kartini telah menyadarkan kita bahwa perempuan tidak hanya harus selalu di dapur dan tak layak mendapatkan pendidikan yang tinggi, sehingga ia bertekad untuk bisa mensejajarkan kedudukan kaum perempuan dengan laki2 atau sering kita dengar "emansipasi wanita". Dan bagi saya pribadi, Kartini adalah inspirasi yang bisa menguatkan saya untuk dapat menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Dan di hari peringatan Kartini ini semoga tidak hanya sebagai slogan yang hanya diperingati dengan mamakai baju kebaya, akan tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dan menciptakan generasi-generasi muda yang dapat mengisi kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Nurlaela Fitri (Angkatan 9)
Kalau menurut saya wanita jaman sekarang berbeda dengan wanita jaman dulu. Mungkin karena lingkungan mempengaruhi juga ya!! Tapi Kedikit banyak nya Kartini sudah mempengaruhi sudut pandang wanita (dlm hal positif ya) banyak ibu-ibu yg berkarir untuk meningkatkan taraf hidup. Banyak kaum wanita yg enggak ingin kalah dengan laki-laki dari segi kesempatan, baik pendidikan, peluang usaha dan lain-lain. Tapi biar gimanapun tetap harus sejalan dengan fitrah wanita itu sendiri sebagai wanita yg harus mau dipimpin oleh laki-laki. Karena itu sudah fitrah seorang perempuan yg tidak bisa menjadi imam. Tapi sejalan dengan perubhan jaman. Biar bagaimanapun tidak bisa disamakan antara perempuan jaman sekarang dengan jaman dulu, sayangnya banyak wanita jaman sekarang yg mengatasnamakan jaman bisa berbuat semaunya. Seperti pergaulan bebas, menyetir suami, dan lain-lain deh yg jauh dr nilai islam. Dengan adanya hari kartini mugkin mengingatkan kembali kaum wanita untuk bisa bersyukur karena sekrang wanita sudah bisa mengekspresikan diri, kalau dulu kan untuk mengenyam pendidikan saja tidak bisa. Mari kita teruskan apa yg sudah diperjuagkn Kartini dan jadilah wanita yg kuat yg tetap berada dikolidor Islam.
Nismah Tanjung (Angkatan 9)
“The first woman was created from the rib of a man. She was not made from his head to top him, nor from his feet to be trampled on by him, but out of his side to be equal to him.” Buat wanita-wanita alumni BEC, life as a woman is hard, but we're lucky to have heaven under our feet. keep spirit!!!
Ida Ariasti (Angkatan 12)
Wanita yang cantik dan mempergunakan kecantikannya untuk hal-hal yang baik, misalkan artis yg cantik itu mendedikasikan diri nya di acara-acara yang mendidik. Wanita yg pintar menggunakan kemampuan otaknya yg hebat untuk memerangi kebodohan. wanita yang kaya dan tidak menunjukkan embel-embel nama marga or nama ningrat nya untuk keperluan pribadi, tidak sombong contoh nya Kartini sendiri. Wanita yang kreatif dengan mengeluarkan film-film or debut lagu or karya seni lainnya sesuai dengan latar pendidikan agar yg dididik tidak bosan. Karena pendidikan penting ya, dan terkesan membosankan, jd wanita kreatif bisa menyumbangkan ke-kreatifannya.
Eva Fitriani (Angkatan 5)
Terlalu banyak yg salah mengartikan makna dari perjuangan Kartini di jaman yg serba modern ini, banyak perempuan yg menganggap dirinya melebihi kaum laki-laki dengan kemapanan yang dimiliki kadang menganggap remeh sebagian kaum adam ini. Padahal seperti yang kita ketahui tujuan dari putri bangsa kita, ibu Kartini, adalah memperjuangkan agar perempuan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menggapai cita-citanya. Untuk itu kita harus berusaha menggapai apa yg menjadi cita-cita kita tanpa mengenyampingkan apa yg sudah menjadi kodrat seorang perempuan. Thanks God banget, kalau dulu ibu Kartini tidak berjuang mungkin saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang, memiliki kesempatan untuk dapat menggapai cita-cita saya. Dulu saya seorang dhuafa yg tdk memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi(kuliah), namun BEC membuat sesuatu yg tdk mungkin menjadi mungkin. Sekarang saya bekerja di salah satu kantor pengacara milik Alm. Sudharmono,SH (mantan wapres RI era Orde Baru) sebagai asisten lawyer. Ini semua berkat doa teman-teman, guru-guru di BEC juga. Thanks a lot, I love you so much. Untuk teman-teman BEC khususnya perempuan, keep spirit, jangan pantang menyerah, jgn takut untuk terus bermimpi, dan tetap rendah hati.
Ditengah modernisasi saat ini, sosok Kartini masih tetap dikagumi sebagai pencetus emansipasi wanita. Dikenang dan dihormati karena jasa-jasanya saat memperjuangkan hak wanita Indonesia.
Hari ini (21/4) tepat dilahirkannya pejuang emansipasi wanita itu, redaksi FOKAL BEC menghimpun beberapa pendapat dari alumni BEC mengenai makna dari memperingati hari Kartini. Seperti apa pendapat mereka? berikut pernyataannya di sela-sela kesibukan mereka:
Maria Ulfah (Angkatan 11)
Bagi aku sosok Kartini itu sama seperti ibu aku, "My Kartini is my mom". Banyak yang salah mengartikan emansipasi wanita. Dalam beberapa bidang emang kita punya kesamaan gender, tetapi ada hal-hal tertentu yang kita tidak bisa sama layaknya kaum pria. Kenyataan yang aku temuin, seorang wanita yg hebat d karir bahkan melebihi karir suaminya di tambah ia seorang yang cantik dan menarik, tapi karena ketakutan akan kehilangan karir dan kecantikannya ia tidak mau hamil. Emansipasi seh boleh ajah asal jangan kebablasan.
Aulia Fithri Fauziah (Angkatan 12)
Saya bangga pada ibu Kartini, karena tanpa jasa beliau, saya rasa sekarang ini mungkin saya hanya sibuk di dapur. Setidaknya ada kemajuan untuk wanita. Dulu saya enggak kepikiran bisa kerja di kantor, bayangan saya mungkin saya hanya di rumah
bantu-bantu orang tua. Tapi ternyata saya bisa merasakan pekerjaan yg biasanya lebih banyak di lakukan laki-laki yaitu "pergi ke kantor". So...bangga dong wanita juga bisa, pokoknya buat para wanita mah tetep percaya diri aja deh, belum tau kita bisa klo belom mencoba.
Rahmi Ramadhona (Angkatan 6)
Lebih dari sebuah makna "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kartini membuat saya bangga bahwa saya wanita dan saya bisa. Wanita jaman sekarang itu hebat. Semua bisa dikerjakan, jaman dulu kan enggak ada cewe jadi pilot tapi banyak juga cewe jaman
sekarang yang gak bisa masak. Jadi, tolak ukur wanita hebat versi 2011 itu menurut gw enggak mesti dari hebatnya dia bisa menjadi apapun (dalam hal pekerjaanya). Ibu yang cuma diem dirumah, dan bisa bikin anaknya senyum senang karena dimasakin makanan enak tiap hari, itu sudah lebih dari hebat. Karena senyum anaknya itu gak bisa dibeli pake uang. Enggak mesti jadi wanita karier kerja kantoran untuk jadi sukses, karena sukses itu relatif. Cukup jadi diri sendiri, dan tekuni apa yang kita kerjakan. Insya Allah buahnya manis.
Eneng Rani (Angkatan 3)
Wanita jg bisa berkreasi & bisa juga menjalnkan kewajibannya sebagai kodratnya.
Santy Hermawan (Angkatan 6)
Kartini adalah seorang wanita yang 'amazing'. Perjuangan untuk kaum perempuan sangatlah besar. Karena kekuatan jati dirinya, budi pekerti yang luhur & semangat yang besar, Kartini telah menyadarkan kita bahwa perempuan tidak hanya harus selalu di dapur dan tak layak mendapatkan pendidikan yang tinggi, sehingga ia bertekad untuk bisa mensejajarkan kedudukan kaum perempuan dengan laki2 atau sering kita dengar "emansipasi wanita". Dan bagi saya pribadi, Kartini adalah inspirasi yang bisa menguatkan saya untuk dapat menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Dan di hari peringatan Kartini ini semoga tidak hanya sebagai slogan yang hanya diperingati dengan mamakai baju kebaya, akan tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dan menciptakan generasi-generasi muda yang dapat mengisi kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Nurlaela Fitri (Angkatan 9)
Kalau menurut saya wanita jaman sekarang berbeda dengan wanita jaman dulu. Mungkin karena lingkungan mempengaruhi juga ya!! Tapi Kedikit banyak nya Kartini sudah mempengaruhi sudut pandang wanita (dlm hal positif ya) banyak ibu-ibu yg berkarir untuk meningkatkan taraf hidup. Banyak kaum wanita yg enggak ingin kalah dengan laki-laki dari segi kesempatan, baik pendidikan, peluang usaha dan lain-lain. Tapi biar gimanapun tetap harus sejalan dengan fitrah wanita itu sendiri sebagai wanita yg harus mau dipimpin oleh laki-laki. Karena itu sudah fitrah seorang perempuan yg tidak bisa menjadi imam. Tapi sejalan dengan perubhan jaman. Biar bagaimanapun tidak bisa disamakan antara perempuan jaman sekarang dengan jaman dulu, sayangnya banyak wanita jaman sekarang yg mengatasnamakan jaman bisa berbuat semaunya. Seperti pergaulan bebas, menyetir suami, dan lain-lain deh yg jauh dr nilai islam. Dengan adanya hari kartini mugkin mengingatkan kembali kaum wanita untuk bisa bersyukur karena sekrang wanita sudah bisa mengekspresikan diri, kalau dulu kan untuk mengenyam pendidikan saja tidak bisa. Mari kita teruskan apa yg sudah diperjuagkn Kartini dan jadilah wanita yg kuat yg tetap berada dikolidor Islam.
Nismah Tanjung (Angkatan 9)
“The first woman was created from the rib of a man. She was not made from his head to top him, nor from his feet to be trampled on by him, but out of his side to be equal to him.” Buat wanita-wanita alumni BEC, life as a woman is hard, but we're lucky to have heaven under our feet. keep spirit!!!
Ida Ariasti (Angkatan 12)
Wanita yang cantik dan mempergunakan kecantikannya untuk hal-hal yang baik, misalkan artis yg cantik itu mendedikasikan diri nya di acara-acara yang mendidik. Wanita yg pintar menggunakan kemampuan otaknya yg hebat untuk memerangi kebodohan. wanita yang kaya dan tidak menunjukkan embel-embel nama marga or nama ningrat nya untuk keperluan pribadi, tidak sombong contoh nya Kartini sendiri. Wanita yang kreatif dengan mengeluarkan film-film or debut lagu or karya seni lainnya sesuai dengan latar pendidikan agar yg dididik tidak bosan. Karena pendidikan penting ya, dan terkesan membosankan, jd wanita kreatif bisa menyumbangkan ke-kreatifannya.
Eva Fitriani (Angkatan 5)
Terlalu banyak yg salah mengartikan makna dari perjuangan Kartini di jaman yg serba modern ini, banyak perempuan yg menganggap dirinya melebihi kaum laki-laki dengan kemapanan yang dimiliki kadang menganggap remeh sebagian kaum adam ini. Padahal seperti yang kita ketahui tujuan dari putri bangsa kita, ibu Kartini, adalah memperjuangkan agar perempuan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menggapai cita-citanya. Untuk itu kita harus berusaha menggapai apa yg menjadi cita-cita kita tanpa mengenyampingkan apa yg sudah menjadi kodrat seorang perempuan. Thanks God banget, kalau dulu ibu Kartini tidak berjuang mungkin saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang, memiliki kesempatan untuk dapat menggapai cita-cita saya. Dulu saya seorang dhuafa yg tdk memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi(kuliah), namun BEC membuat sesuatu yg tdk mungkin menjadi mungkin. Sekarang saya bekerja di salah satu kantor pengacara milik Alm. Sudharmono,SH (mantan wapres RI era Orde Baru) sebagai asisten lawyer. Ini semua berkat doa teman-teman, guru-guru di BEC juga. Thanks a lot, I love you so much. Untuk teman-teman BEC khususnya perempuan, keep spirit, jangan pantang menyerah, jgn takut untuk terus bermimpi, dan tetap rendah hati.
Jumat, 15 April 2011
10 Manfaat Silaturahmi
1. Mendapatkan ridho Allah SWT.
2. Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia."
3. Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
4. Disenangi oleh manusia.
5. Membuat iblis dan setan marah.
6. Memanjangkan usia.
7. Menambah banyak dan berkah rejekinya.
8. Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
9. Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.(*)
2. Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia."
3. Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
4. Disenangi oleh manusia.
5. Membuat iblis dan setan marah.
6. Memanjangkan usia.
7. Menambah banyak dan berkah rejekinya.
8. Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
9. Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.(*)
Sabtu, 09 April 2011
Lebih Puas Jadi IRT
*) SANTY HERMAWAN ALUMNI BEC ANGKATAN 6
Menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga merupakan suatu pekerjaan yang amatlah rumit. Harus menjalankan dua roda yang berbeda. Disisi lain harus menjalankan kewajiban sebagai seorang karyawan, dilain sisi tugas seorang ibu dan istri sudah menanti dirumah. Pada zaman milenia seperti sekarang ini, pekerjaan tersebut sudah banyak dilakukan. Seperti wanita yang satu ini.
Alumni Bogor EduCARE (BEC) jebolan tahun 2005 ini merupakan satu dari sekian banyak alumni BEC yang bertindak sebagai wanita pekerja (karyawati perusahaan) sekaligus ibu rumah tangga. Santy memulai karirnya di awal tahun 2005 di PT Bukaka Teknik Utama. “Sebelum kerja di Bukaka aku ngajar les bahasa Inggris dulu dirumah sekitar 3 bulanan. Awal tahun 2005 aku mulai kerja di Bukaka sampe sekarang,” ungkapnya.
Setahun lamanya ia jalani pekerjaan sebagai staf HRD divisi Stamping hingga ia dipindah tugaskan ke Bukaka Trans System di kawasan Sentul pada Maret 2007. Setahun itu pula ia berkenalan dengan Reza Hudaya, yang sekarang menjadi suaminya. Awal tahun 2005 merupakan awal mereka berkenalan, hingga pada Februari 2006 dua sejoli yang sama-sama bekerja di Bukaka ini akhrinya meresmikan hubungan mereka. “Aku kenalan sama dia di Bukaka, cinta lokasi gitu alias cinlok, heheheee...” ungkapnya sambil tertawa. “Kita pacara selama setahun, Februari 2006 baru kita meresmikan hubungan kita”, sambungnya.
Kebahagian di tahun 2006 dua sejoli ini semakin lengkap dengan kehadiran buah hati mereka bernama Raihan Fahlevi pada bulan November 2006. Menjadi seorang ibu baru tidaklah mudah bagi seorang Santy Hermawan. ”Awal-awal seh agak kagok masih takut-takut klo ngegendong, tapi lama-lama dah biasa. Untung ada suami yang ngebantu ngurus, jadi ga terlalu ribet,” tuturnya. Demi buah hati tercinta, Santy harus rela begadang untuk menemani si kecil. “Kurang lebih 2 bulan aku harus begadang nemenin dia, Raihan itu tidur jam 7 malem, terus bangun jam 10 malem. Naah dari jam 10 malem melek terus sampe jam 5 pagi, wah repot deh. Tapi demi Raihan, aku mah seneng-seneng ajah”, ucapnya dengan bangga.
Memiliki seorang anak tidak membuat Santy lepas dari tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dua bulan pasca melahirkan, ia kembali beraktivitas di kantornya di kawasan sentul. Sementara anaknya ia titipkan dirumah neneknya (adik dari ibu kandung Santy). Sampai umur anaknya menginjak satu tahun, Santy dan suaminya memutuskan untuk tinggal terpisah dari orangtuanya dan menempati rumah di bilangan Sukaraja, Ciluar Bogor. “Setelah anak berumur satu tahun, aku sudah enggak tinggal sama mertua lagi, sekarang udah pisah dan tinggal di daerah Sukaraja, Ciluar”, terangnya.
Menyiapkan sarapan untuk suami dan anak menjadi santapan sehari-hari bagi Santy. Apalagi anaknya kini sudah masuk sekolah playgrup di kawasan Bogor. Antar jemput ke sekolah rutin ia lakukan setiap hari di bantu sang suami. “Pagi-pagi harus nyiapin sarapan buat suami dan anak, klo nganterin ke sekolah seh suami, terus yang ngejemput pulang neneknya, aku seh tinggal jemput ajah dirumah neneknya sepulang aku kerja”, ungkapnya sambil tertawa kecil. “Tadinya seh kita punya pengasuh buat Raihan, tapi ga pernah bertahan lama, semua pengasuh yang keluar alasanya mau nikah semua. Raihan itu lebih seneng di asuh sama ABG (Anak Baru Gede) dari pada sama ibu-ibu, mungkin karena ibunya masih ABG kali ya...heheheee”, ungkap Santy sedikit becanda. Santy mengaku sudah hampir 5 bulan ini susah untuk mencari pengasuh buat anaknya. “iya udah 5 bulan ini susah nyari pengasuh. Terpaksa deh mau ga mau sama neneknya”, keluhnya.
Untuk menambah penghasilannya, selain bekerja, Santy juga memiliki usaha sampingan bersama sang suami tercinta Reza Hudaya, yaitu menjual baju dan jam tangan. “Aku punya usaha sampingan jualan baju dan jam tangan, aku biasanya jualan di pasar kaget setiap hari Minggu di daerah Pemda Bogor, atau melalui facebook, kadang juga nerima jasa pengetikan”, tuturnya. “Untuk hari Sabtu aku sempetin waktu buat anak, kebetulan hari Sabtu kan aku libur jadi ada waktu buat ngajak anak bermain. Kadang ngajak dia jalan-jalan, berenang, pergi ke taman, ke Timezone. Dan ga jarang juga buat ngajak dia ke toko buku biar dia terbiasa baca buku”, ucap wanita kelahiran 1985 itu.
Ketika harus memilih antara pekerjaan kantor dan ibu rumah tangga, istri Reza Hudaya ini mengatakan bahwa akan sangat puas bila menjadi ibu rumah tangga, karena bisa ngasuh anak secara maksimal. “Sejujurnya lebih puas jadi ibu rumah tangga, karena bisa mengasuh anak dengan maksimal. Tapi untuk sekarang ini juga belum bisa meninggalkan pekerjaan. Namun, selama ada waktu untuk si kecil kerjaan di kantor ga jadi masalah. Makanya khusus untuk Sabtu atau Minggu aku usahain buat nemenin anak. Kalo hari biasa aku hanya bisa nemenin dia belajar dan maen, itu juga malem. Tapi alhamdulillah, anakku sekarang udah mulai ngerti kalo ibunya ga bisa sama-sama dia terus dari pagi sampe sore”, ungkapnya.
Diakhir kisahnya, Santy sedikit menceritakan anak semata wayangnya, Raihan Fahlevi. "Dia itu anaknya cepet nangkep pelajaran, baru lima bulan masuk playgrup dia udah bisa baca suku kata dan hobinya mewarnai dan nonton dvd. Terus dia juga suka minta PR (pekerjaan rumah) sama gurunya padahal di playgrup biasanya murid-muridnya belum dikasih kaya gitu", tuturnya.(snp)
Menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga merupakan suatu pekerjaan yang amatlah rumit. Harus menjalankan dua roda yang berbeda. Disisi lain harus menjalankan kewajiban sebagai seorang karyawan, dilain sisi tugas seorang ibu dan istri sudah menanti dirumah. Pada zaman milenia seperti sekarang ini, pekerjaan tersebut sudah banyak dilakukan. Seperti wanita yang satu ini.
Alumni Bogor EduCARE (BEC) jebolan tahun 2005 ini merupakan satu dari sekian banyak alumni BEC yang bertindak sebagai wanita pekerja (karyawati perusahaan) sekaligus ibu rumah tangga. Santy memulai karirnya di awal tahun 2005 di PT Bukaka Teknik Utama. “Sebelum kerja di Bukaka aku ngajar les bahasa Inggris dulu dirumah sekitar 3 bulanan. Awal tahun 2005 aku mulai kerja di Bukaka sampe sekarang,” ungkapnya.
Setahun lamanya ia jalani pekerjaan sebagai staf HRD divisi Stamping hingga ia dipindah tugaskan ke Bukaka Trans System di kawasan Sentul pada Maret 2007. Setahun itu pula ia berkenalan dengan Reza Hudaya, yang sekarang menjadi suaminya. Awal tahun 2005 merupakan awal mereka berkenalan, hingga pada Februari 2006 dua sejoli yang sama-sama bekerja di Bukaka ini akhrinya meresmikan hubungan mereka. “Aku kenalan sama dia di Bukaka, cinta lokasi gitu alias cinlok, heheheee...” ungkapnya sambil tertawa. “Kita pacara selama setahun, Februari 2006 baru kita meresmikan hubungan kita”, sambungnya.
Kebahagian di tahun 2006 dua sejoli ini semakin lengkap dengan kehadiran buah hati mereka bernama Raihan Fahlevi pada bulan November 2006. Menjadi seorang ibu baru tidaklah mudah bagi seorang Santy Hermawan. ”Awal-awal seh agak kagok masih takut-takut klo ngegendong, tapi lama-lama dah biasa. Untung ada suami yang ngebantu ngurus, jadi ga terlalu ribet,” tuturnya. Demi buah hati tercinta, Santy harus rela begadang untuk menemani si kecil. “Kurang lebih 2 bulan aku harus begadang nemenin dia, Raihan itu tidur jam 7 malem, terus bangun jam 10 malem. Naah dari jam 10 malem melek terus sampe jam 5 pagi, wah repot deh. Tapi demi Raihan, aku mah seneng-seneng ajah”, ucapnya dengan bangga.
Memiliki seorang anak tidak membuat Santy lepas dari tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dua bulan pasca melahirkan, ia kembali beraktivitas di kantornya di kawasan sentul. Sementara anaknya ia titipkan dirumah neneknya (adik dari ibu kandung Santy). Sampai umur anaknya menginjak satu tahun, Santy dan suaminya memutuskan untuk tinggal terpisah dari orangtuanya dan menempati rumah di bilangan Sukaraja, Ciluar Bogor. “Setelah anak berumur satu tahun, aku sudah enggak tinggal sama mertua lagi, sekarang udah pisah dan tinggal di daerah Sukaraja, Ciluar”, terangnya.
Menyiapkan sarapan untuk suami dan anak menjadi santapan sehari-hari bagi Santy. Apalagi anaknya kini sudah masuk sekolah playgrup di kawasan Bogor. Antar jemput ke sekolah rutin ia lakukan setiap hari di bantu sang suami. “Pagi-pagi harus nyiapin sarapan buat suami dan anak, klo nganterin ke sekolah seh suami, terus yang ngejemput pulang neneknya, aku seh tinggal jemput ajah dirumah neneknya sepulang aku kerja”, ungkapnya sambil tertawa kecil. “Tadinya seh kita punya pengasuh buat Raihan, tapi ga pernah bertahan lama, semua pengasuh yang keluar alasanya mau nikah semua. Raihan itu lebih seneng di asuh sama ABG (Anak Baru Gede) dari pada sama ibu-ibu, mungkin karena ibunya masih ABG kali ya...heheheee”, ungkap Santy sedikit becanda. Santy mengaku sudah hampir 5 bulan ini susah untuk mencari pengasuh buat anaknya. “iya udah 5 bulan ini susah nyari pengasuh. Terpaksa deh mau ga mau sama neneknya”, keluhnya.
Untuk menambah penghasilannya, selain bekerja, Santy juga memiliki usaha sampingan bersama sang suami tercinta Reza Hudaya, yaitu menjual baju dan jam tangan. “Aku punya usaha sampingan jualan baju dan jam tangan, aku biasanya jualan di pasar kaget setiap hari Minggu di daerah Pemda Bogor, atau melalui facebook, kadang juga nerima jasa pengetikan”, tuturnya. “Untuk hari Sabtu aku sempetin waktu buat anak, kebetulan hari Sabtu kan aku libur jadi ada waktu buat ngajak anak bermain. Kadang ngajak dia jalan-jalan, berenang, pergi ke taman, ke Timezone. Dan ga jarang juga buat ngajak dia ke toko buku biar dia terbiasa baca buku”, ucap wanita kelahiran 1985 itu.
Ketika harus memilih antara pekerjaan kantor dan ibu rumah tangga, istri Reza Hudaya ini mengatakan bahwa akan sangat puas bila menjadi ibu rumah tangga, karena bisa ngasuh anak secara maksimal. “Sejujurnya lebih puas jadi ibu rumah tangga, karena bisa mengasuh anak dengan maksimal. Tapi untuk sekarang ini juga belum bisa meninggalkan pekerjaan. Namun, selama ada waktu untuk si kecil kerjaan di kantor ga jadi masalah. Makanya khusus untuk Sabtu atau Minggu aku usahain buat nemenin anak. Kalo hari biasa aku hanya bisa nemenin dia belajar dan maen, itu juga malem. Tapi alhamdulillah, anakku sekarang udah mulai ngerti kalo ibunya ga bisa sama-sama dia terus dari pagi sampe sore”, ungkapnya.
Diakhir kisahnya, Santy sedikit menceritakan anak semata wayangnya, Raihan Fahlevi. "Dia itu anaknya cepet nangkep pelajaran, baru lima bulan masuk playgrup dia udah bisa baca suku kata dan hobinya mewarnai dan nonton dvd. Terus dia juga suka minta PR (pekerjaan rumah) sama gurunya padahal di playgrup biasanya murid-muridnya belum dikasih kaya gitu", tuturnya.(snp)
Kamis, 07 April 2011
Suvenir Pernikahan Pangeran William
Souvenir "teh celup" dengan penggambaran Pangeran Inggris, William dan Kate Middleton terlihat di London, 7 April 2011. Suvenir itu merupakan cinderamata bagi para pengunjung pesta pernikahan William. Seorang menteri Inggris mengatakan
dua miliar orang diperkirakan akan menyetel siaran TV untuk menonton pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada tanggal 29 April mendatang.(*)
dua miliar orang diperkirakan akan menyetel siaran TV untuk menonton pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada tanggal 29 April mendatang.(*)
Senin, 04 April 2011
Suami yang Tertipu Beristeri Pria
Sebenarnya dari sisi wajah, bodi, dan suara, sulit rasanya menyebut Anastasya Octaviany alias Icha sebagai perempuan. Tapi, mengapa Muhammad Umar baru sadar bahwa Icha itu adalah pria setelah dinikahi selama enam bulan" Apa motif Icha menyamar sebagai perempuan". Berikut kisahnya.
Di dalam ruang tahanan Polsek Jatiasih, Kota Bekasi, Rahmat Sulistiyo sibuk menutupi wajahnya dengan topi dari bidikan kamera para wartawan yang ingin memotretnya. Dia juga berkali-kali menghindar saat moncong kamera wartawan mengarah ke wajahnya.
Memang, Rahmat merupakan salah seorang "buruan" wartawan lantaran ulahnya yang terbilang langka itu. Yakni, selama lebih dari enam bulan dia berpura-pura menjadi perempuan bernama Anastasya Octaviany alias Icha dan menjadi istri Muhammad Umar, 32.
Lambat laun penyamarannya terbongkar. Icha pun langsung dilaporkan suaminya ke polisi dengan pasal penipuan. Kini dia resmi menjadi tersangka sekaligus tahanan di Polsek Jatiasih."Saya ini normal, panggil saja Tiyok," kata Icha dari balik ruang tahanan.
Sebenarnya, dari gerak-geriknya saja sudah terlihat jelas bahwa Icha bukanlah perempuan, namun laki-laki tulen. Dia juga bukan pria "kemayu". Suaranya jelas-jelas seorang laki-laki. Tubuhnya gagah dan tergolong atletis. Jalannya tegap. Di kaki dan tangannya tumbuh bulu yang lumayan lebat.
Saat disinggung soal pernikahannya dengan Umar, dia langsung mendadak terdiam. Pelan-pelan dia mulai membuka mulut. Tiyok mengaku, itu semua berawal dari keisengannya. Dia pun sama sekali tidak menyangka keisengan tersebut akan berujung di penjara.
Tiyok lalu menceritakan asal-muasal akun di Facebook-nya. Menurut dia, pembuatan akun Facebook tersebut bermula saat dirinya baru putus dari pacarnya pada pertengahan tahun lalu. "Pacar saya perempuan," ungkapnya.
Nah, untuk menghilangkan rasa sakit hati lantaran diputus sang kekasih, Tiyok pun membuat akun Facebook dengan identitas perempuan bernama Anastasya Octaviany, lengkap dengan foto yang berdandan ala perempuan.
Foto Icha alias Tiyok itu sempat dilihat Umar. Dia pun tertarik. Selanjutnya, warga Kampung Bojongsari, RT 1/2, Kelurahan Jatiasri, Kecamatan Jatasih, tersebut langsung berupaya mendekati Tiyok. Perkenalan mereka terjadi sebelum Idul Fitri 2010. Nah, beberapa hari setelah Lebaran, mereka melangsungkan pernikahan.
Sejak berkenalan dan menjalin hubungan dengan Umar, Tiyok akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. "Saya pamit ke orang tua kerja di Tangerang," kata Tiyok yang beralamat asli di RT 12 RW 2 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, itu.
Apakah ada perasaan cinta" "Dari awal saya nggak pernah cinta sama Umar, cuma kasihan saja. Dia saya anggap abang," jawabnya. Awalnya Tiyok tidak berniat melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun, karena merasa nyaman dengan Umar lantaran calon suaminya itu adalah orang yang penyabar dan penyayang, dia pun nekat melangsungkan pernikahan.
Bahkan, Tiyok berpikiran, ada hikmah positif dari pernikahan tersebut. Yakni, dia semakin rajin melaksanakan ibadah salat dan mengaji. Sebab, sang suamilah yang membimbingnya untuk rajin melaksakan ibadah.
Perlahan muncul perasaan bersalah dan berdosa karena telah membohongi Umar. Beberapa kali timbul keinginan untuk mengaku dan mengakhiri drama kebohongan dalam rumah tangganya. "Tapi, saya bingung. Sebenarnya, ada keinginan untuk berontak. Tapi, bagaimana caranya" Kalau ngaku, saya bisa digebukin warga," ujarnya.
Saat disinggung tentang kehidupan rumah tangganya atau ditanya soal orientasi seksualnya, Tiyok pun langsung mengelak. "Saya nggak mau kalau diwawancarai soal itu," tepis dia.
"Saya ini suka cewek. Buktinya, saya nggak kuat lihat hidung mbak yang mancung itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah reporter perempuan yang ikut mewawancarainya. Kapolsek Jatiasih AKP Darmawan Karosekali dan beberapa wartawan yang mengikuti wawancara tersebut langsung ngakak.?
Jika Icah alias Tiyok terkesan santai menghadapi kasusnya, tidak demikian Umar. Ketika kemarin diwawancarai, dia terlihat masih terpukul atas peristiwa yang dialami. Saat ditemui di rumahnya di Kampung Bojongsari, Umar masih terlihat lesu.
Sambil mengisap sebatang rokok, dia duduk bersandar di kursi depan teras rumahnya. "Kalau banyak tamu, saya mumet lagi. Tapi, kalau sendirian, saya pelan-pelan bisa melupakannya," cerita dia.
Umar mengungkapkan, saat berpacaran dengan Icha, dirinya sama sekali tak curiga pacarnya itu seorang lelaki. Dia mengatakan, pacarnya adalah orang yang pintar merayu dan baik hati. "Awalnya Icha yang telepon saya karena salah sambung," ucapnya.
Perkenalan itu berlanjut dan keduanya saling bertukar alamat Facebook. Setelah melihat foto di Facebook, timbul perasaan suka pada diri Umar. Keduanya semakin intensif menjalin hubungan dan berpacaran.
Bukankah dari sisi wajah, bodi, dan suaranya, sudah kentara sekali Icha adalah lelaki" "Ya, namanya sudah telanjur cinta," ungkapnya. Umar mengaku tidak memerkarakan penampilan Icha yang sekitar 10 sentimeter lebih tinggi daripada dirinya dan gerak-geriknya seperti lelaki. Selain itu, Umar kepincut gara-gara Icha mengaku sebagai seorang pramugari.
Memang, beberapa jurus digunakan Icha untuk meyakinkan Umar bahwa dirinya adalah perempuan. Misalnya, kata Umar, Icha pernah mengajaknya pergi ke sebuah rumah di Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diakuinya sebagai rumah orang tuanya. Namun, saat itu Umar tidak bertemu siapa pun. "Alasanya, orang tuanya lagi pergi," terang Umar.
Bukan hanya itu, Icha juga pernah memperkenalkan Umar dengan ibu kandungnya yang belakangan diketahui ternyata ibu abal-abal. "Waktu itu saya sama sekali nggak kepikiran," ujar dia.
Menurut Umar, Icha merupakan orang yang luar biasa. "Dia sangat tenang," katanya. Sebab, saat prosesi pernikahan yang dihelat di rumah Umar, Icha sama sekali tidak gugup. "Bayangkan, waktu itu ada 200 undangan, dia sangat tenang," terang karyawan di pabrik fiberglass itu.
Bagaimana saat dirias, apakah tidak terlihat kelaki-lakian Icha" "Yang tahu kan cuma tukang rias. Saya nggak tahu," ucapanya.
Nah, ternyata saat penikahan itu, tamu dari pihak Icha yang datang hanya sekitar empat orang. Sisanya adalah keluarga dan tamu pihak Umar. Seluruh biaya pernikahan yang ditaksir menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta pun ditanggung Umar.
Yang menarik, pada hari pernikahan mereka, datang sebuah karangan bunga bertulisan: Selamat Berbahagia dari Susilo Bambang Yudhoyono, PT Sriwijaya Airlines. "Itu pasti akal-akalan dia," ujarnya sambil menunjukkan foto karangan bunga tersebut.
Kecurigaan Umar sebenarnya sudah muncul beberapa bulan setelah menikah. Sebab, sang istri sama sekali tidak pernah melepas jilbab dan bajunya meski hanya berdua dengan dia. Bahkan, saat tidur istrinya juga mengenakan pakaian lengkap.
Begitu pula saat berhubungan intim. Icha lebih banyak menolak dengan alasan sakit perut, haid, dan lain sebagainya. Jika terpaksa, Icha selalu meminta berhubungan intim dari "belakang". "Tapi, saya nggak pernah marah. Saya akan bongkar, tapi pelan-pelan," kata dia.
Umar memang tergolong pria yang kalem. Bahkan, menurut beberapa tetangga Umar, Icha kerap bertindak kasar dan pernah mengancam Umar.
Meski merasa sakit hati, Umar tetap menganggap istrinya adalah orang baik. Sebab, setiap minggu Icha mengikuti pengajian bersama ibu-ibu di Kampung Bojong. Selain itu, Icha tidak pernah menuntut harta atau uang Umar secara berlebihan.
"Hingga sekarang, saya juga bingung apa alasan dia mau nikah sama saya," kata Umar. "Yang jelas, dulu Icha pernah meminta dua anak setelah menikah," katanya, lalu tersenyum.
Di bagian lain, saat mendatangi rumah Icha di RT 12 RW 2, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Saat tiba di sana, rumah itu terlihat kosong. Parijo dan Wagirah, orang tua Tiyok, tidak tampak di rumah sederhana tersebut. Begitu pula dua adik Rahmat.
Menurut keterangan warga sekitar, Parijo dan Wagirah saat ini benar-benar terpukul akibat polah anak sulung mereka.
Menurut Endang, tetangga sebelah rumah Parijo, sehari-hari Rahmat akrab disapa Tyo. Pagi hari kemarin, dua orang tua Tyo terlihat berada di rumah. "Semuanya lengkap," kata dia.
Keterangan tersebut tidak salah. Sebab, saat melihat kondisi rumah keluarga Parijo, terdapat tanda-tanda aktivitas. Di antaranya, keluarga Tyo sudah memajang jajanan berupa makanan ringan dan krupuk kaleng di bagian belakang rumahnya. Sehari-hari Wagirah nyambi berjualan makanan ringan dan aneka jajanan lainnya. Di bagian depan rumahnya, gerbang tidak tertutup. Namun, pintu terkunci rapat.
Beberapa tentangga mengatakan, keluarga Tyo kabur setelah mendapat informasi bahwa rumahnya akan diserbu wartawan. Untuk berjaga-jaga, Parijo menugaskan Rahman, anak bungsunya, berjaga-jaga di mulut gang. Jika melihat ada wartawan, dia harus cepat lapor. Mereka sekeluarga lalu kabur.
Endang menjelaskan, Tyo adalah sosok anak yang normal. Selama ini, sekilas dia tidak melihat kecurigaan pada dirinya. Tyo pernah menuntut ilmu akademi keperawatan di salah satu perguruan tinggi swasta. "Tetapi, cuma dua semester. Setelah itu, dia pamit bekerja," kata Endang.
Cerita lain muncul dari Suwondo. Tetangga satu RT tersebut mengetahui kabar kejanggalan Tyo pada Sabtu siang. "Saya tahu saat ada di kantor," tuturnya.
Suwondo menjelaskan, Tyo lahir dari keluarga terpandang. Keluarga Tyo bukan keluarga golongan bawah atau miskin. "Kalau di sini, masuk menengah ke atas," katanya. Maklum, Parijo diketahui bekerja sebagai kepala cabang sebuah koperasi simpan pinjam. Selain dikenal berduit, di mata warga Parijo dikenal sebagai tokoh masyarakat yang dermawan.
Dengan kondisi tersebut, lanjut Suwondo, kemungkinan motivasi kesulitan ekonomi sebagai dasar Tyo menikah dengan laki-laki sangat kecil. "Meskipun rumahnya sederhana, keluarga Pak Parijo bukan keluarga miskin," ujar pria pendatang asal Jawa Tengah itu.
Suwondo juga menuturkan, selain terpandang dari segi ekonomi, keluarga Parijo dikenal sebagai keluarga religius. Bahkan, Tyo pernah dimasukkan pesantren di daerah Bogor. Tetapi, lagi-lagi Tyo tidak betah dan memilih pulang. Tentang sosok Tyo, Suwondo mengatakan normal-normal saja.
Namun, salah seorang tetangga Tyo menjelaskan bahwa gerak-geriknya sedikit genit. "Dia sering manggil nama saya dengan genit," ujar salah seorang warga setempat. Perempuan yang tidak mau disebut namanya itu menjelaskan, kegenitan Tyo melebihi dirinya. Para tentangga, lanjut dia, saat ini masih prihatin dengan keluarga Parijo. Untuk itu, para tetangga berusaha menutupi beberapa kelakuan Tyo.
Sementara itu, Ketua RT 12 RW 2 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Suhadi mengungkapkan, Tyo pernah meminta surat keterangan untuk pembuatan SKCK (surat keterangan catatan kebaikan). Menurut pria 59 tahun itu, Tyo mengajukan permohonan surat keterangan tersebut sekitar November tahun lalu. "Tyo membutuhkan SKCK, katanya untuk bekerja," tutur Suhadi.
Dalam pengajuan surat permohonan tersebut, Tyo tidak memalsukan jati dirinya. Dalam draf isian, Tyo menulis bahwa jenis kelaminnya laki-laki. Setelah meminta surat keterangan itu, Suhadi sudah tidak pernah lagi melihat Tyo. Tyo pamit bekerja dan indekos.
Suhadi menambahkan, selama ini Tyo masih tercatat sebagai warganya. Sebab, Tyo belum meminta surat permohonan pindah alamat. Terkait dengan pernikahan Tyo, kata Suhadi, pemuda yang biasa menyapa dirinya dengan sebutan Pakde itu tidak pernah mengajukan surat pindah nikah.
Padahal, selama ini warga yang menikah di luar tempat tinggalnya selalu meminta surat pindah nikah. Surat tersebut diteken mulai tingkat RT, RW, kelurahan, hingga modin setempat. "Selama ini tidak pernah ada keterangan meminta surat nikah," jelas Suhadi.
Ke depan, setelah Tyo menjalani masa hukuman, Suhadi mengatakan bahwa warga tetap menerima kehadirannya karena Tyo tidak melakukan kejahatan di lingkungannya. "Sekarang kami serahkan ke kepolisian," tandasnya. (RB)
Di dalam ruang tahanan Polsek Jatiasih, Kota Bekasi, Rahmat Sulistiyo sibuk menutupi wajahnya dengan topi dari bidikan kamera para wartawan yang ingin memotretnya. Dia juga berkali-kali menghindar saat moncong kamera wartawan mengarah ke wajahnya.
Memang, Rahmat merupakan salah seorang "buruan" wartawan lantaran ulahnya yang terbilang langka itu. Yakni, selama lebih dari enam bulan dia berpura-pura menjadi perempuan bernama Anastasya Octaviany alias Icha dan menjadi istri Muhammad Umar, 32.
Lambat laun penyamarannya terbongkar. Icha pun langsung dilaporkan suaminya ke polisi dengan pasal penipuan. Kini dia resmi menjadi tersangka sekaligus tahanan di Polsek Jatiasih."Saya ini normal, panggil saja Tiyok," kata Icha dari balik ruang tahanan.
Sebenarnya, dari gerak-geriknya saja sudah terlihat jelas bahwa Icha bukanlah perempuan, namun laki-laki tulen. Dia juga bukan pria "kemayu". Suaranya jelas-jelas seorang laki-laki. Tubuhnya gagah dan tergolong atletis. Jalannya tegap. Di kaki dan tangannya tumbuh bulu yang lumayan lebat.
Saat disinggung soal pernikahannya dengan Umar, dia langsung mendadak terdiam. Pelan-pelan dia mulai membuka mulut. Tiyok mengaku, itu semua berawal dari keisengannya. Dia pun sama sekali tidak menyangka keisengan tersebut akan berujung di penjara.
Tiyok lalu menceritakan asal-muasal akun di Facebook-nya. Menurut dia, pembuatan akun Facebook tersebut bermula saat dirinya baru putus dari pacarnya pada pertengahan tahun lalu. "Pacar saya perempuan," ungkapnya.
Nah, untuk menghilangkan rasa sakit hati lantaran diputus sang kekasih, Tiyok pun membuat akun Facebook dengan identitas perempuan bernama Anastasya Octaviany, lengkap dengan foto yang berdandan ala perempuan.
Foto Icha alias Tiyok itu sempat dilihat Umar. Dia pun tertarik. Selanjutnya, warga Kampung Bojongsari, RT 1/2, Kelurahan Jatiasri, Kecamatan Jatasih, tersebut langsung berupaya mendekati Tiyok. Perkenalan mereka terjadi sebelum Idul Fitri 2010. Nah, beberapa hari setelah Lebaran, mereka melangsungkan pernikahan.
Sejak berkenalan dan menjalin hubungan dengan Umar, Tiyok akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. "Saya pamit ke orang tua kerja di Tangerang," kata Tiyok yang beralamat asli di RT 12 RW 2 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, itu.
Apakah ada perasaan cinta" "Dari awal saya nggak pernah cinta sama Umar, cuma kasihan saja. Dia saya anggap abang," jawabnya. Awalnya Tiyok tidak berniat melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun, karena merasa nyaman dengan Umar lantaran calon suaminya itu adalah orang yang penyabar dan penyayang, dia pun nekat melangsungkan pernikahan.
Bahkan, Tiyok berpikiran, ada hikmah positif dari pernikahan tersebut. Yakni, dia semakin rajin melaksanakan ibadah salat dan mengaji. Sebab, sang suamilah yang membimbingnya untuk rajin melaksakan ibadah.
Perlahan muncul perasaan bersalah dan berdosa karena telah membohongi Umar. Beberapa kali timbul keinginan untuk mengaku dan mengakhiri drama kebohongan dalam rumah tangganya. "Tapi, saya bingung. Sebenarnya, ada keinginan untuk berontak. Tapi, bagaimana caranya" Kalau ngaku, saya bisa digebukin warga," ujarnya.
Saat disinggung tentang kehidupan rumah tangganya atau ditanya soal orientasi seksualnya, Tiyok pun langsung mengelak. "Saya nggak mau kalau diwawancarai soal itu," tepis dia.
"Saya ini suka cewek. Buktinya, saya nggak kuat lihat hidung mbak yang mancung itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah reporter perempuan yang ikut mewawancarainya. Kapolsek Jatiasih AKP Darmawan Karosekali dan beberapa wartawan yang mengikuti wawancara tersebut langsung ngakak.?
Jika Icah alias Tiyok terkesan santai menghadapi kasusnya, tidak demikian Umar. Ketika kemarin diwawancarai, dia terlihat masih terpukul atas peristiwa yang dialami. Saat ditemui di rumahnya di Kampung Bojongsari, Umar masih terlihat lesu.
Sambil mengisap sebatang rokok, dia duduk bersandar di kursi depan teras rumahnya. "Kalau banyak tamu, saya mumet lagi. Tapi, kalau sendirian, saya pelan-pelan bisa melupakannya," cerita dia.
Umar mengungkapkan, saat berpacaran dengan Icha, dirinya sama sekali tak curiga pacarnya itu seorang lelaki. Dia mengatakan, pacarnya adalah orang yang pintar merayu dan baik hati. "Awalnya Icha yang telepon saya karena salah sambung," ucapnya.
Perkenalan itu berlanjut dan keduanya saling bertukar alamat Facebook. Setelah melihat foto di Facebook, timbul perasaan suka pada diri Umar. Keduanya semakin intensif menjalin hubungan dan berpacaran.
Bukankah dari sisi wajah, bodi, dan suaranya, sudah kentara sekali Icha adalah lelaki" "Ya, namanya sudah telanjur cinta," ungkapnya. Umar mengaku tidak memerkarakan penampilan Icha yang sekitar 10 sentimeter lebih tinggi daripada dirinya dan gerak-geriknya seperti lelaki. Selain itu, Umar kepincut gara-gara Icha mengaku sebagai seorang pramugari.
Memang, beberapa jurus digunakan Icha untuk meyakinkan Umar bahwa dirinya adalah perempuan. Misalnya, kata Umar, Icha pernah mengajaknya pergi ke sebuah rumah di Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diakuinya sebagai rumah orang tuanya. Namun, saat itu Umar tidak bertemu siapa pun. "Alasanya, orang tuanya lagi pergi," terang Umar.
Bukan hanya itu, Icha juga pernah memperkenalkan Umar dengan ibu kandungnya yang belakangan diketahui ternyata ibu abal-abal. "Waktu itu saya sama sekali nggak kepikiran," ujar dia.
Menurut Umar, Icha merupakan orang yang luar biasa. "Dia sangat tenang," katanya. Sebab, saat prosesi pernikahan yang dihelat di rumah Umar, Icha sama sekali tidak gugup. "Bayangkan, waktu itu ada 200 undangan, dia sangat tenang," terang karyawan di pabrik fiberglass itu.
Bagaimana saat dirias, apakah tidak terlihat kelaki-lakian Icha" "Yang tahu kan cuma tukang rias. Saya nggak tahu," ucapanya.
Nah, ternyata saat penikahan itu, tamu dari pihak Icha yang datang hanya sekitar empat orang. Sisanya adalah keluarga dan tamu pihak Umar. Seluruh biaya pernikahan yang ditaksir menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta pun ditanggung Umar.
Yang menarik, pada hari pernikahan mereka, datang sebuah karangan bunga bertulisan: Selamat Berbahagia dari Susilo Bambang Yudhoyono, PT Sriwijaya Airlines. "Itu pasti akal-akalan dia," ujarnya sambil menunjukkan foto karangan bunga tersebut.
Kecurigaan Umar sebenarnya sudah muncul beberapa bulan setelah menikah. Sebab, sang istri sama sekali tidak pernah melepas jilbab dan bajunya meski hanya berdua dengan dia. Bahkan, saat tidur istrinya juga mengenakan pakaian lengkap.
Begitu pula saat berhubungan intim. Icha lebih banyak menolak dengan alasan sakit perut, haid, dan lain sebagainya. Jika terpaksa, Icha selalu meminta berhubungan intim dari "belakang". "Tapi, saya nggak pernah marah. Saya akan bongkar, tapi pelan-pelan," kata dia.
Umar memang tergolong pria yang kalem. Bahkan, menurut beberapa tetangga Umar, Icha kerap bertindak kasar dan pernah mengancam Umar.
Meski merasa sakit hati, Umar tetap menganggap istrinya adalah orang baik. Sebab, setiap minggu Icha mengikuti pengajian bersama ibu-ibu di Kampung Bojong. Selain itu, Icha tidak pernah menuntut harta atau uang Umar secara berlebihan.
"Hingga sekarang, saya juga bingung apa alasan dia mau nikah sama saya," kata Umar. "Yang jelas, dulu Icha pernah meminta dua anak setelah menikah," katanya, lalu tersenyum.
Di bagian lain, saat mendatangi rumah Icha di RT 12 RW 2, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Saat tiba di sana, rumah itu terlihat kosong. Parijo dan Wagirah, orang tua Tiyok, tidak tampak di rumah sederhana tersebut. Begitu pula dua adik Rahmat.
Menurut keterangan warga sekitar, Parijo dan Wagirah saat ini benar-benar terpukul akibat polah anak sulung mereka.
Menurut Endang, tetangga sebelah rumah Parijo, sehari-hari Rahmat akrab disapa Tyo. Pagi hari kemarin, dua orang tua Tyo terlihat berada di rumah. "Semuanya lengkap," kata dia.
Keterangan tersebut tidak salah. Sebab, saat melihat kondisi rumah keluarga Parijo, terdapat tanda-tanda aktivitas. Di antaranya, keluarga Tyo sudah memajang jajanan berupa makanan ringan dan krupuk kaleng di bagian belakang rumahnya. Sehari-hari Wagirah nyambi berjualan makanan ringan dan aneka jajanan lainnya. Di bagian depan rumahnya, gerbang tidak tertutup. Namun, pintu terkunci rapat.
Beberapa tentangga mengatakan, keluarga Tyo kabur setelah mendapat informasi bahwa rumahnya akan diserbu wartawan. Untuk berjaga-jaga, Parijo menugaskan Rahman, anak bungsunya, berjaga-jaga di mulut gang. Jika melihat ada wartawan, dia harus cepat lapor. Mereka sekeluarga lalu kabur.
Endang menjelaskan, Tyo adalah sosok anak yang normal. Selama ini, sekilas dia tidak melihat kecurigaan pada dirinya. Tyo pernah menuntut ilmu akademi keperawatan di salah satu perguruan tinggi swasta. "Tetapi, cuma dua semester. Setelah itu, dia pamit bekerja," kata Endang.
Cerita lain muncul dari Suwondo. Tetangga satu RT tersebut mengetahui kabar kejanggalan Tyo pada Sabtu siang. "Saya tahu saat ada di kantor," tuturnya.
Suwondo menjelaskan, Tyo lahir dari keluarga terpandang. Keluarga Tyo bukan keluarga golongan bawah atau miskin. "Kalau di sini, masuk menengah ke atas," katanya. Maklum, Parijo diketahui bekerja sebagai kepala cabang sebuah koperasi simpan pinjam. Selain dikenal berduit, di mata warga Parijo dikenal sebagai tokoh masyarakat yang dermawan.
Dengan kondisi tersebut, lanjut Suwondo, kemungkinan motivasi kesulitan ekonomi sebagai dasar Tyo menikah dengan laki-laki sangat kecil. "Meskipun rumahnya sederhana, keluarga Pak Parijo bukan keluarga miskin," ujar pria pendatang asal Jawa Tengah itu.
Suwondo juga menuturkan, selain terpandang dari segi ekonomi, keluarga Parijo dikenal sebagai keluarga religius. Bahkan, Tyo pernah dimasukkan pesantren di daerah Bogor. Tetapi, lagi-lagi Tyo tidak betah dan memilih pulang. Tentang sosok Tyo, Suwondo mengatakan normal-normal saja.
Namun, salah seorang tetangga Tyo menjelaskan bahwa gerak-geriknya sedikit genit. "Dia sering manggil nama saya dengan genit," ujar salah seorang warga setempat. Perempuan yang tidak mau disebut namanya itu menjelaskan, kegenitan Tyo melebihi dirinya. Para tentangga, lanjut dia, saat ini masih prihatin dengan keluarga Parijo. Untuk itu, para tetangga berusaha menutupi beberapa kelakuan Tyo.
Sementara itu, Ketua RT 12 RW 2 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Suhadi mengungkapkan, Tyo pernah meminta surat keterangan untuk pembuatan SKCK (surat keterangan catatan kebaikan). Menurut pria 59 tahun itu, Tyo mengajukan permohonan surat keterangan tersebut sekitar November tahun lalu. "Tyo membutuhkan SKCK, katanya untuk bekerja," tutur Suhadi.
Dalam pengajuan surat permohonan tersebut, Tyo tidak memalsukan jati dirinya. Dalam draf isian, Tyo menulis bahwa jenis kelaminnya laki-laki. Setelah meminta surat keterangan itu, Suhadi sudah tidak pernah lagi melihat Tyo. Tyo pamit bekerja dan indekos.
Suhadi menambahkan, selama ini Tyo masih tercatat sebagai warganya. Sebab, Tyo belum meminta surat permohonan pindah alamat. Terkait dengan pernikahan Tyo, kata Suhadi, pemuda yang biasa menyapa dirinya dengan sebutan Pakde itu tidak pernah mengajukan surat pindah nikah.
Padahal, selama ini warga yang menikah di luar tempat tinggalnya selalu meminta surat pindah nikah. Surat tersebut diteken mulai tingkat RT, RW, kelurahan, hingga modin setempat. "Selama ini tidak pernah ada keterangan meminta surat nikah," jelas Suhadi.
Ke depan, setelah Tyo menjalani masa hukuman, Suhadi mengatakan bahwa warga tetap menerima kehadirannya karena Tyo tidak melakukan kejahatan di lingkungannya. "Sekarang kami serahkan ke kepolisian," tandasnya. (RB)
Langganan:
Postingan (Atom)













